Showing posts with label Opini. Show all posts
Showing posts with label Opini. Show all posts

Tuesday, 8 July 2014

Jokowi-Jk, Menang Tipis 51,4%

Makassar, Koran Investigasi

Maraknya surver yang bermunculan menjelang Pilpres 9 Juli 2014 diyakini adalah manuver beberapa pendukung salah satu diantara kandidat Presiden 2014 yang terus membuat opini masyarakat yang seolah-olah meyakinkan masyarakat bahwa merekalah sang survery sebagai penentu hati nurani masyarakat dalam menetapkan pilihan masyarakat 9 Juli 2014 besok. Sepertihalnya pada Pileg 2014 yang lalu dimana Lembaga-lembaga survey bermunculan yang menyodorkan kepada Caleg untuk melakoni survey Populiritas serta Elektabilatas yang hampir semua menempatkan jagoannya pada urutan-urutan teratas padahal ujung-ujungnya adalah duit dan semuanya menjadi bohong belaka.      

Kami sebagai penulispun ingin menginflementasikan kinerja kami kepada masyarakat diseluruh indonesia tentang siapa yang akan menjadi pemenang dalam Pilpres 9 Juli 2014 nanti.  Berdasarkan hasil dari analisa dari berbagai media dan juga lembaga survey yang kami amati dan juga analisa Supranatural yang kami dapatkan sendiri bahwa Pasangan Jokowi-Jk akan mengungguli Prabowo-Hatta. dengan asumsi tak terjadi kecurangan pada saat penghitungan suara dari semua tingkatan.  Diprediksikan bahwa 51,4% untuk Jokowi-Jk dan 48,6% untuk Prabowo Hatta dengan tingkat kesalahan 1,3% dan tingkat kebenaran mencapai 97%.  Metode survey yang kami lakukan dengan menghimpun semua berbagai Informasi yang kami dapatkan baik dari Media On line, dari berbagai lembaga Survey ( Baik yang abal-abal maupun yang terpercaya ) dan juga dengan percakapan langsung dengan pemilih dengan menanyakan keluarga atau rekannya yang berada dimanapun akan memilih siapa nantinya. Analisa ini mungkin tak masuk akal akan tetapi apa salahnya kami mencoba menerapkan analisa sendiri yang tanpa bayaran dari siapapun.
Dengan Berdasarkan Supra Natural bahwa yang akan menjadi Presiden 2014-2019 adalah seorangg sosok yang akan berbaur kepada masyarakat Golongan menengah ke bawah.  Mereka akan berbaur bersama disebuah rumah panggung yang akan roboh akan tetapi rumah panggung itu tak mampu roboh karena beliau ada bersama rakyat diatasnya.  Diibaratkan Indonesia adalah sebuah rumah panggung yang hampir roboh oleh para mapia serta koruptor dan karena beliau datang untuk menyatukan anak bangsa maka Indonesia sebagai bangsa yang besar tak akan roboh.  Inilah supranatural yang mungkin anda akan mengetahui kebenarannya setelah 9 Juli 2014 nanti.

Berikut sebaggai perbandingan beberapa Lembaga Survey Nasional dan Internasional yang rekam jejaknya cukup bisa dipercaya merilis hasil yang tidak jauh beda, dimana pasangan Jokowi-JK unggul dari pesaingnya, Prabowo-Hatta.

1. Survei Litbang Kompas dirilis 21 Juni 2014,

Hasil survei Badan Litbang Kompas yang dipublikasikan Sabtu (21/6/2014) mencatat pasangan Joko Widodo (Jokowi)-Jusuf Kalla memiliki tingkat keterpilihan sebesar 42,3 persen. Sementara duet Prabowo Subianto-Hatta Rajasa mendapat elektabilitas sebesar 35,3 persen.


2. Survei IFES dan Lembaga Survei Indonesia (LSI) dirilis 25 Juni 2014

Lembaga nirlaba internasional IFES bekerja sama dengan Lembaga Survei Indonesia (LSI) melakukan survei pasca Pileg 9 April lalu. Hasil survei ini menunjukkan 43% memilih Jokowi dan 39% memilih Prabowo Subianto. Hanya terpaut 4% perbedaan pilihan masyarakat terhadap kedua capres tersebut. Meski begitu masih ada 18% responden yang tidak menjawab atau undecided voters.

Survei ini dilaksanakan pada 1-10 Juni 2014. Metode survei yang digunakan adalah wawancara langsung dengan responden. Jumlah responden sebanyak 2.009 orang dengan sample acak tersebar di seluruh Indonesia. Margin of erorr dalam survei ini adalah +- 2,2% dengan tingkat kepercayaan 95%.

3. Survei LIPI dirilis 26 Juni 2014

Pusat Penelitian Politik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (P2P LIPI) menggelar survei elektabilitas capres. Hasil survei yang dirilis pada Kamis (26/6/2014) ini menunjukkan Jokowi-JK unggul dengan elektabilitas 43% dari Prabowo-Hatta yang memiliki tingkat keterpilihan 34%. Sisanya sebanyak 23% belum menentukan pilihan. Jokowi-JK masih unggul 9% dari Prabowo-Hatta.

Survei digelar pada 5-14 Juni 2014 dengan 790 responden berusia di atas 17 tahun di 33 provinsi. Pemilihan sampel dengan metode multistage random. Margin error survei ini 3,51% dengan tingkat kepercayaan 95%. Pengambilan data dilakukan dengan wawancara tatap muka. Pertanyaan yang diajukan ke responden, yaitu “Jika pemilihan presiden diselenggarakan pada hari ini, siapakah yang akan Anda pilih?”

4. Survei Indo Barometer dirilis 29 Juni 2014

Survei Indo Barometer sebelum memasuki masa kampanye capres Jokowi masih unggul 13,5% atas Prabowo Subianto. Namun kini dua pekan menjelang Pilpres elektabilitas Prabowo mulai menguntit ketat Jokowi. “Head to head calon presiden, Jokowi 45,3% dan Prabowo (42,9%). Suara belum memutuskan 11,7%. Head to head calon wakil presiden, Jusuf Kalla (44,6%) dan Hatta Rajasa (39,3%),” kata Direktur Eksekutif Indo Barometer, M Qodari, dalam paparan hasil survei di Hotel Harris, Jl Dr Sahardjo No 191, Tebet, Jakarta Selatan, Minggu (29/6/2014).

Survei ini dilakukan pada tanggal 16 – 22 Juni 2014. Survei dilaksanakan di 33 provinsi di seluruh Indonesia dengan jumlah responden sebanyak 1.200 orang dengan margin of error sebesar 3,0% pada tingkat kepercayaan 95%.

5. Survei Roy Morgan Research (Australia) dirilis 30 Juni 2014

Lembaga survei dari Australia Roy Morgan Research hari ini mempublikasikan hasil jajak pendapat terkait pemilihan presiden dan wakil presiden di Indonesia. Hasilnya pasangan capres dan cawapres Joko Widodo (Jokowi)-Jusuf Kalla memiliki elektabilitas sebesar 52 persen sementara pesaingnya Prabowo Subianto-Hatta Rajasa mempunyai tingkat keterpilihan 48 persen.

Selisih dukungan kedua capres itu cukup lumayan, yakni 30 persen. Namun angka itu terus berubah setelah pemilihan anggota legislatif April lalu. Apalagi setelah PDI Perjuangan yang mengusung Jokowi hanya memperoleh sekitar 19 persen suara, jauh di bawah target partai tersebut.

6. Survei Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA dirilis 07 Juli 2014

Survei terakhir Lingkaran Survei Indonesia (LSI) yang dilakukan pada awal Juli 2014 menunjukkan bahwa pasangan Joko Widodo-Jusuf Kalla masih unggul dari pasangan Prabowo Subianto-Hatta Rajasa.

Berdasarkan hasil survei, responden yang memilih Jokowi-JK sebesar 47,80 persen, sedangkan mereka yang memilih Prabowo-Hatta sebesar 44,20 persen. Responden yang memilih tidak tahu atau tidak menjawab sebanyak 8 persen.

Pengumpulan data survei ini dilakukan pada 2-5 Juli 2014. Jumlah responden 2.400 orang dengan wawancara tatap muka menggunakan kuesioner. Margin of error survei lebih kurang 2 persen. Adapun survei dibiayai sendiri oleh LSI.
 

Kesimpulan hasil survei lembaga-lembaga survei terpercaya tersebut menegaskan bahwa Jokowi-JK tetap unggul atas Prabowo-Hatta serta Jokowi-Hatta unggul secara merata di semua wilayah serta juga unggul di kelas bawah dan kelas menengah.* A. Ms Hersandy


sejumlah lembaga yang rekam jejaknya cukup bisa dipercaya merilis hasil yang tidak jauh beda, dimana pasangan Jokowi-JK unggul dari pesaingnya, Prabowo-Hatta.
1. Survei Litbang Kompas dirilis 21 Juni 2014,

Hasil survei Badan Litbang Kompas yang dipublikasikan Sabtu (21/6/2014) mencatat pasangan Joko Widodo (Jokowi)-Jusuf Kalla memiliki tingkat keterpilihan sebesar 42,3 persen. Sementara duet Prabowo Subianto-Hatta Rajasa mendapat elektabilitas sebesar 35,3 persen.
Meski pasangan Jokowi-JK unggul namun selisih dengan pesaingnya kian tipis yakni 7 persen. Melihat ketatnya persaingan, Kompas menyebut masih mungkin terjadi perubahan.

2. Survei IFES dan Lembaga Survei Indonesia (LSI) dirilis 25 Juni 2014

Lembaga nirlaba internasional IFES bekerja sama dengan Lembaga Survei Indonesia (LSI) melakukan survei pasca Pileg 9 April lalu. Hasil survei ini menunjukkan 43% memilih Jokowi dan 39% memilih Prabowo Subianto. Hanya terpaut 4% perbedaan pilihan masyarakat terhadap kedua capres tersebut. Meski begitu masih ada 18% responden yang tidak menjawab atau undecided voters.

Survei ini dilaksanakan pada 1-10 Juni 2014. Metode survei yang digunakan adalah wawancara langsung dengan responden. Jumlah responden sebanyak 2.009 orang dengan sample acak tersebar di seluruh Indonesia. Margin of erorr dalam survei ini adalah +- 2,2% dengan tingkat kepercayaan 95%.

3. Survei LIPI dirilis 26 Juni 2014
Pusat Penelitian Politik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (P2P LIPI) menggelar survei elektabilitas capres. Hasil survei yang dirilis pada Kamis (26/6/2014) ini menunjukkan Jokowi-JK unggul dengan elektabilitas 43% dari Prabowo-Hatta yang memiliki tingkat keterpilihan 34%. Sisanya sebanyak 23% belum menentukan pilihan. Jokowi-JK masih unggul 9% dari Prabowo-Hatta.

Survei digelar pada 5-14 Juni 2014 dengan 790 responden berusia di atas 17 tahun di 33 provinsi. Pemilihan sampel dengan metode multistage random. Margin error survei ini 3,51% dengan tingkat kepercayaan 95%. Pengambilan data dilakukan dengan wawancara tatap muka. Pertanyaan yang diajukan ke responden, yaitu “Jika pemilihan presiden diselenggarakan pada hari ini, siapakah yang akan Anda pilih?”

4. Survei Indo Barometer dirilis 29 Juni 2014

Survei Indo Barometer sebelum memasuki masa kampanye capres Jokowi masih unggul 13,5% atas Prabowo Subianto. Namun kini dua pekan menjelang Pilpres elektabilitas Prabowo mulai menguntit ketat Jokowi. “Head to head calon presiden, Jokowi 45,3% dan Prabowo (42,9%). Suara belum memutuskan 11,7%. Head to head calon wakil presiden, Jusuf Kalla (44,6%) dan Hatta Rajasa (39,3%),” kata Direktur Eksekutif Indo Barometer, M Qodari, dalam paparan hasil survei di Hotel Harris, Jl Dr Sahardjo No 191, Tebet, Jakarta Selatan, Minggu (29/6/2014).

Survei ini dilakukan pada tanggal 16 – 22 Juni 2014. Survei dilaksanakan di 33 provinsi di seluruh Indonesia dengan jumlah responden sebanyak 1.200 orang dengan margin of error sebesar 3,0% pada tingkat kepercayaan 95%.

5. Survei Roy Morgan Research (Australia) dirilis 30 Juni 2014

Lembaga survei dari Australia Roy Morgan Research hari ini mempublikasikan hasil jajak pendapat terkait pemilihan presiden dan wakil presiden di Indonesia. Hasilnya pasangan capres dan cawapres Joko Widodo (Jokowi)-Jusuf Kalla memiliki elektabilitas sebesar 52 persen sementara pesaingnya Prabowo Subianto-Hatta Rajasa mempunyai tingkat keterpilihan 48 persen.

Selisih dukungan kedua capres itu cukup lumayan, yakni 30 persen. Namun angka itu terus berubah setelah pemilihan anggota legislatif April lalu. Apalagi setelah PDI Perjuangan yang mengusung Jokowi hanya memperoleh sekitar 19 persen suara, jauh di bawah target partai tersebut.

6. Survei Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA dirilis 07 Juli 2014
Survei terakhir Lingkaran Survei Indonesia (LSI) yang dilakukan pada awal Juli 2014 menunjukkan bahwa pasangan Joko Widodo-Jusuf Kalla masih unggul dari pasangan Prabowo Subianto-Hatta Rajasa.
Berdasarkan hasil survei, responden yang memilih Jokowi-JK sebesar 47,80 persen, sedangkan mereka yang memilih Prabowo-Hatta sebesar 44,20 persen. Responden yang memilih tidak tahu atau tidak menjawab sebanyak 8 persen.

Pengumpulan data survei ini dilakukan pada 2-5 Juli 2014. Jumlah responden 2.400 orang dengan wawancara tatap muka menggunakan kuesioner. Margin of error survei lebih kurang 2 persen. Adapun survei dibiayai sendiri oleh LSI.

Kesimpulan hasil survei lembaga-lembaga survei terpercaya tersebut menegaskan bahwa Jokowi-JK tetap unggul atas Prabowo-Hatta serta Jokowi-Hatta unggul secara merata di semua wilayah serta juga unggul di kelas bawah dan kelas menengah.

Survei di dunia maya

Pasangan calon presiden dan wakil presiden Joko Widodo-Jusuf Kalla diprediksi pengguna Internet memenangi pemilihan presiden 9 Juli 2014. Berdasarkan pantauan percakapan di dunia maya, Jokowi-JK lebih sering dibicarakan dengan sentimen positif dibanding Prabowo Subianto-Hatta Rajasa.

Menurut pendiri PoliticaWave, Yose Rizal, penilaian itu berasal dari pemantauan enam media berbeda yang sering digunakan oleh para pengguna Internet atau netizen. "Misalnya Twitter, Facebook, dan YouTube," katanya dalam siaran pers, Senin (07/7/2014).

Pada periode 8 Juni-5 Juli 2014, PoliticaWave mencatat 5.977.879 percakapan dan 1.592.323 pengguna Internet yang membicarakan kedua pasangan tersebut. "Jokowi-Kalla 60,5 persen, sedangkan Prabowo-Hatta 39,5 persen," kata Yose Rizal.

Yose Rizal mengatakan PoliticaWave juga memetakan sentimen netizen terhadap kedua pasang calon presiden dan wakil presiden ini. "Percakapan diberi makna sentimen positif, negatif atau netral," katanya. Hasilnya, Jokowi-Kalla unggul 3,5 kali lebih positif dibanding Prabowo-Hatta.

Menurut pengalaman PoliticaWave pada pemilihan kepala daerah dan pemilu legislatif, 10 dari 12 pemilu kepala daerah dimenangkan oleh kandidat yang percakapannya paling besar dan positif. "Jokowi-Kalla akan memenangkan pilpres dengan elektabilitas 53,8 persen, sedangkan elektabilitas Prabowo-Hatta sebesar 46,2 persen," kata Yose Rizal.
- See more at: http://utama.seruu.com/read/2014/07/07/220589/jelang-pilpres-survei-6-lembaga-terpercaya-unggulkan-jokowi-jk#sthash.4x29M97D.dpuf
sejumlah lembaga yang rekam jejaknya cukup bisa dipercaya merilis hasil yang tidak jauh beda, dimana pasangan Jokowi-JK unggul dari pesaingnya, Prabowo-Hatta.
1. Survei Litbang Kompas dirilis 21 Juni 2014,

Hasil survei Badan Litbang Kompas yang dipublikasikan Sabtu (21/6/2014) mencatat pasangan Joko Widodo (Jokowi)-Jusuf Kalla memiliki tingkat keterpilihan sebesar 42,3 persen. Sementara duet Prabowo Subianto-Hatta Rajasa mendapat elektabilitas sebesar 35,3 persen.
Meski pasangan Jokowi-JK unggul namun selisih dengan pesaingnya kian tipis yakni 7 persen. Melihat ketatnya persaingan, Kompas menyebut masih mungkin terjadi perubahan.

2. Survei IFES dan Lembaga Survei Indonesia (LSI) dirilis 25 Juni 2014

Lembaga nirlaba internasional IFES bekerja sama dengan Lembaga Survei Indonesia (LSI) melakukan survei pasca Pileg 9 April lalu. Hasil survei ini menunjukkan 43% memilih Jokowi dan 39% memilih Prabowo Subianto. Hanya terpaut 4% perbedaan pilihan masyarakat terhadap kedua capres tersebut. Meski begitu masih ada 18% responden yang tidak menjawab atau undecided voters.

Survei ini dilaksanakan pada 1-10 Juni 2014. Metode survei yang digunakan adalah wawancara langsung dengan responden. Jumlah responden sebanyak 2.009 orang dengan sample acak tersebar di seluruh Indonesia. Margin of erorr dalam survei ini adalah +- 2,2% dengan tingkat kepercayaan 95%.

3. Survei LIPI dirilis 26 Juni 2014
Pusat Penelitian Politik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (P2P LIPI) menggelar survei elektabilitas capres. Hasil survei yang dirilis pada Kamis (26/6/2014) ini menunjukkan Jokowi-JK unggul dengan elektabilitas 43% dari Prabowo-Hatta yang memiliki tingkat keterpilihan 34%. Sisanya sebanyak 23% belum menentukan pilihan. Jokowi-JK masih unggul 9% dari Prabowo-Hatta.

Survei digelar pada 5-14 Juni 2014 dengan 790 responden berusia di atas 17 tahun di 33 provinsi. Pemilihan sampel dengan metode multistage random. Margin error survei ini 3,51% dengan tingkat kepercayaan 95%. Pengambilan data dilakukan dengan wawancara tatap muka. Pertanyaan yang diajukan ke responden, yaitu “Jika pemilihan presiden diselenggarakan pada hari ini, siapakah yang akan Anda pilih?”

4. Survei Indo Barometer dirilis 29 Juni 2014

Survei Indo Barometer sebelum memasuki masa kampanye capres Jokowi masih unggul 13,5% atas Prabowo Subianto. Namun kini dua pekan menjelang Pilpres elektabilitas Prabowo mulai menguntit ketat Jokowi. “Head to head calon presiden, Jokowi 45,3% dan Prabowo (42,9%). Suara belum memutuskan 11,7%. Head to head calon wakil presiden, Jusuf Kalla (44,6%) dan Hatta Rajasa (39,3%),” kata Direktur Eksekutif Indo Barometer, M Qodari, dalam paparan hasil survei di Hotel Harris, Jl Dr Sahardjo No 191, Tebet, Jakarta Selatan, Minggu (29/6/2014).

Survei ini dilakukan pada tanggal 16 – 22 Juni 2014. Survei dilaksanakan di 33 provinsi di seluruh Indonesia dengan jumlah responden sebanyak 1.200 orang dengan margin of error sebesar 3,0% pada tingkat kepercayaan 95%.

5. Survei Roy Morgan Research (Australia) dirilis 30 Juni 2014

Lembaga survei dari Australia Roy Morgan Research hari ini mempublikasikan hasil jajak pendapat terkait pemilihan presiden dan wakil presiden di Indonesia. Hasilnya pasangan capres dan cawapres Joko Widodo (Jokowi)-Jusuf Kalla memiliki elektabilitas sebesar 52 persen sementara pesaingnya Prabowo Subianto-Hatta Rajasa mempunyai tingkat keterpilihan 48 persen.

Selisih dukungan kedua capres itu cukup lumayan, yakni 30 persen. Namun angka itu terus berubah setelah pemilihan anggota legislatif April lalu. Apalagi setelah PDI Perjuangan yang mengusung Jokowi hanya memperoleh sekitar 19 persen suara, jauh di bawah target partai tersebut.

6. Survei Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA dirilis 07 Juli 2014
Survei terakhir Lingkaran Survei Indonesia (LSI) yang dilakukan pada awal Juli 2014 menunjukkan bahwa pasangan Joko Widodo-Jusuf Kalla masih unggul dari pasangan Prabowo Subianto-Hatta Rajasa.
Berdasarkan hasil survei, responden yang memilih Jokowi-JK sebesar 47,80 persen, sedangkan mereka yang memilih Prabowo-Hatta sebesar 44,20 persen. Responden yang memilih tidak tahu atau tidak menjawab sebanyak 8 persen.

Pengumpulan data survei ini dilakukan pada 2-5 Juli 2014. Jumlah responden 2.400 orang dengan wawancara tatap muka menggunakan kuesioner. Margin of error survei lebih kurang 2 persen. Adapun survei dibiayai sendiri oleh LSI.

Kesimpulan hasil survei lembaga-lembaga survei terpercaya tersebut menegaskan bahwa Jokowi-JK tetap unggul atas Prabowo-Hatta serta Jokowi-Hatta unggul secara merata di semua wilayah serta juga unggul di kelas bawah dan kelas menengah.

Survei di dunia maya

Pasangan calon presiden dan wakil presiden Joko Widodo-Jusuf Kalla diprediksi pengguna Internet memenangi pemilihan presiden 9 Juli 2014. Berdasarkan pantauan percakapan di dunia maya, Jokowi-JK lebih sering dibicarakan dengan sentimen positif dibanding Prabowo Subianto-Hatta Rajasa.

Menurut pendiri PoliticaWave, Yose Rizal, penilaian itu berasal dari pemantauan enam media berbeda yang sering digunakan oleh para pengguna Internet atau netizen. "Misalnya Twitter, Facebook, dan YouTube," katanya dalam siaran pers, Senin (07/7/2014).

Pada periode 8 Juni-5 Juli 2014, PoliticaWave mencatat 5.977.879 percakapan dan 1.592.323 pengguna Internet yang membicarakan kedua pasangan tersebut. "Jokowi-Kalla 60,5 persen, sedangkan Prabowo-Hatta 39,5 persen," kata Yose Rizal.

Yose Rizal mengatakan PoliticaWave juga memetakan sentimen netizen terhadap kedua pasang calon presiden dan wakil presiden ini. "Percakapan diberi makna sentimen positif, negatif atau netral," katanya. Hasilnya, Jokowi-Kalla unggul 3,5 kali lebih positif dibanding Prabowo-Hatta.

Menurut pengalaman PoliticaWave pada pemilihan kepala daerah dan pemilu legislatif, 10 dari 12 pemilu kepala daerah dimenangkan oleh kandidat yang percakapannya paling besar dan positif. "Jokowi-Kalla akan memenangkan pilpres dengan elektabilitas 53,8 persen, sedangkan elektabilitas Prabowo-Hatta sebesar 46,2 persen," kata Yose Rizal.
- See more at: http://utama.seruu.com/read/2014/07/07/220589/jelang-pilpres-survei-6-lembaga-terpercaya-unggulkan-jokowi-jk#sthash.4x29M97D.dpuf

Monday, 7 July 2014

Anton 'Play boy' Kena Batunya

Jakarta, Koran Investigasi
 



Bidar Batavia Group Film, akan meluncurkan karya terbarunya yang berjudul "Diaspora Cinta di Taipei". Film bergenre drama komedian ini mengisahkan seorang playboy dalam melancarkan aksinya dan akhirnya terkena batunya.  Film ini diangkat dari Novel Laris karya Deyantono yang berjudul "Nikmatnya Selingkuh Formosa". Dalam Penggarapannnya film tersebut melakukan pengambilan gambar di Jakarta, Gunung Bromo sampai Taipei atau Taiwan. Sejumlah landmark dan tempat wisata diTaipei terekam dalam adegan film ini. Antara lain Gedung Taipei 101, Chiang kai Sek memorial hall, air terjun Fu Fu, pemandian air panas Wu Lai hingga jembatan cinta yang terletak dikawasan Fisherman Dwarf.
Sebagai pencetus ide, Letsman Tendy selaku eksekutif produser merasa terbantu dengan kerjasama yang baik antara pemerintah Indonesia dan Taiwan, sehingga film ini sayang dilewatkan untuk ditonton saat liburan " Jelas Lestman Tendy" (01/07/2014). Sementara itu, Deyanto sebagai Penulis Novel "Nikmatnya Selingkuh Formosa" mengaku senang melihat karyanya diangkat menjadi sebuah Film. "Ini pelajaran berharga buat setiap manusia untuk menjaga kesetiaan. Cerita ini sebenarnya merupakan kisah nyata yang diangkat dari Perantau.Tapi, menurutnya semua orang harus membaca dan menyaksikan filmnya, agar bisa belajar, " kata Deyantono yang juga pengusaha sukses di Taiwan. Film Diaspora Cinta di Taipei di sutradarai Hasto Broto ini bercerita tentang Anton ( Jonathan Fritzy) yang ditugaskan atasannya belajar bahasa Mandarin di Taiwan. Sebelum berangkat, Anton bersumpah setia pada Jelita (Livy Andriani) yang tak lain istrinya. Alih-alih berjanji setia, Anton malah berselingkuh dengan banyak wanita, mulai dari Shinta (Jovita), Anty (Krisni Dieta), Atun (Tizza Radia), Vava Adhiyaksa, Sri (Melodi Septania), Tina (Thasyah Rahayu) hingga Nanik (Jill Gladys) yang notabene merupakan sahabat istrinya sendiri. Anton melancarkan segala tipu dayanya dalam film tersebut dibantu oleh rekannya Bejo (Afdhal Yusman) yang berprofesi sebagai fotografer. Namun, Bejo diharapkan oleh Anton akan memuluskan aksinya dalam merayu Wanita, malah mengambil manfaat dengan "Menidurinya". Dari petualangannya, Anton terkena batunya.
Menurut Jill Gladys atau yang memerankan Nanik "Tantangan keterbatasan bahasa Mandarin yang membuatnya sulit berkomunikasi dilokasi syuting untuk memesan makanan di restourant sana", paparnya kepada awak media di Planet Hollywood Jakarta Selatan. Film ini bisa disaksikan dibioskop mulai 3 Juli 2014 mendatang* didi_wj  

Friday, 27 June 2014

Bergaya Nazi, Dhani Seperti Berharap Pemimpin Diktaktor


Jakata, Koran Investigasi

Berbagai kritikan yang ditujukan  pada Ahmad Dhani, sehubungan pakaian dikenakan dalam video‎ dukungan terhadap pasangan Prabowo - Hatta yang berjudul Prabowo-Hatta: We Will Rock You. Soalnya, hentakan lagu hingga pengunaan pakaian ala pasukan SS di video itu, seakan memimpikan kepemimpinan diktator dan otoriter.
Artis sekaligus pembawa acara terkenal yang kerap tampil di stasiun televisi nasional Sarah Sechan mengaku bingung dan tidak tahu apa alasan Dhani berani menggunakan kostum tersebut untuk mendukung salah satu calon presiden. Dalam akun twitternya @sarahsechan, ia mempertanyakan hal itu.
"Maaf, saya gak ngerti ini maksudnya apa. yg kiri adalah seragam Himmler ss. ttg Heinrich Himmler: lahir tahun 1990 (maksudnya 1929, red), wafat tahun 1945. Heinrich Himmler adalah salah satu manusia yg paling ditakuti di kelompok Nazi Jerman dan Eropa pd saat perang dunia 2 mulai. Sebagai ketua SS, tanggung jawab utamanya adalah menjaga keamanan internal dan mengorganisir Final Solution Holocaust, di mana 11 juta manusia, termasuk anak2, orang cacat, orang tua dibunuh karena beda kepercayaan, ras, dan visi," tulis Sarah, pada Rabu (25/6/2014).
Bahkan, dalam kalimat berikutnya Sarah mempertanyakan apakah selama ini, Dhani mengidolakan pemimpin yang mirip dengan Nazi yang memiliki sifat diktaktor dan terkenal sebagai penjahat hak asasi manusia di seluruh dunia.
"Lalu kenapa seragam ini digunakan utk video klip mendukung capres no.1? Apa berarti harapan dia capres yg dia dukung jadi orang yg paling ditakuti? Saya berharap pemimpin yg terpilih adalah yg bisa saya hormati, bukan ditakuti," kata Sarah.
‎Seperti diketahui, Dhani adalah salah satu artis yang telah menyatakan dukungannya kepada Prabowo  - Hatta. Dhani sempat mengaku ia mau mendukung Prabowo karena dia suka pemimpin yang berlatar belakang militer.
Namun selain, Sarah, sikap Dhani yang memakai pakaian mirip seragam Himller yang dipakai Nazi juga mendapat sorotan dari majalah Jerman, Spiegel. Majalah itu menyebutkan dalam video itu Dhani seolah ingin mempertontonkan kekuatan militer yang sangat diktaktor dan ganas.
Pemerhati politik dari Lembaga Lingkar Madani Indonesia (LIMA), Ray Rangkuti menilai bahwa klip lagu Indonesia Bangkit yang telah digubah oleh musisi Ahmad Dhani untuk mengkampanyekan pasangan Prabowo-Hatta sudah seharusnya ditarik dan tidak layak untuk ditampilkan.
"Pokok soalnya bukan pada isi lagu yang mengkampanyekan Prabowo-HR tapi pada simbol yang dipakai khususnya oleh Ahmad Dhani dalam video klip tersebut," ujar Ray dalam pesan singkatnya, Rabu (25/6/2014).
Mantan aktivis 98 itu menjelaskan, dalam klip tersebut, Ahmad Dhani  memakai busana yang mirip dengan pakaian khas tentara Nazi-Hitler. Ray menjelaskan, dirinya tidak tahu alasan dari pentolan group musik Dewa 19 itu dengan mengenakan pakaian khas Nazi dalam klipnya.
"Menyatukan kampanye capres dengan atribut Nazi-Hitler jelas bertentangan dengan tujuan kampanye. Bagaimanapun, Nazi telah dinyatakan sebagai aktor kejam, anti HAM, penjahat kemanusiaan, dan diktator sadis di abad modern," papar Ray.
Atribut Nazi, kata Ray, dipandang sebagai persetujuan atas tindakan jahat. Apalagi Ahmad Dhani selama ini dipandang sebagai bagian dari timses pasangan No urut 1.

"Sebab  klip itu, bukan saja mempermalukan pasangan nomor  urut 1 tapi juga mempermalukan bangsa ini secara keseluruhan di mata dunia. Kita, seolah satu bangsa yang memperkenankan simbol-simbol pelaku kejahatan kemanusiaan untuk dikampanyekan," tandas Ray. 
Di sisi lain, We Will Rock You yang digubah, ternyata mendapat protes musisi barat yang membawakan lagu tersebut, karena tidak meminta izin terlebih dahulu kepada penciptanya * Int/wb

Sunday, 1 June 2014

Jokowi dan JK vs Kampanye Hitam

Jakarta, Koran Investigasi
Setelah resmi Ir. H. Joko Widodo resmi dicalonkan presiden dari PDI Perjuangan bulan lalu, isu miring yang ditujukan padanya seakan tidak pernah berhenti-silih berganti black campaign yang datang dari lawan politiknya. Mulai dari isu sara, ketidakmampuan, flagiator, hingga track record nya.
Kian bertambah dan menjadi-jadi setelah Drs H. Jusuf Kalla resmi mendampingi Jokowi sebagai Cawapres yang dideklarasikan di Gedung Joeang 45, kemudian langsung menuju KPU mendaftarkan diri menjadi peserta Calon Presiden dan Calon Wakil Presiden 2014. Dan resmi Jokowi-JK ditetapkan 31 Mei 2014 oleh KPU sebagai peserta Pilpres, dengan nomor 2.
Mereka datang mengendarai sepeda Ontel mengenakan busana putih-putih  yang diantar oleh para pendukungnya dengan berbagai atribut. Di sepanjang jalan, mereka berorasi tak henti di Jalan Imam Bonjol Jakarta Pusat.
Jokowi dan JK sampai di Gedung KPU Pusat pada pukul 14.15 WIB disambut langsung oleh Husni Kamil sebagai Ketua KPU. Kedatangannya ke KPU, sempat membuat pegawai kewalahan mengatur simpatisannya, kemudian kemacetan berbagai arah di ruas jalan menuju Bundaran Hotel Indonesia.
Dan tak hanya itu para pendukung menanti kedatangan tokoh yang diharapkannnya itu pada 19 Mei. Nampak pula kedatangan putri Megawati Puan Maharani, Djahjo Kumolo, Rieke Diah Pitaloka, Purn Pol Dai Backtiar,Maruar Sirait dan beberapa Politisi PDI-P beserta Partai pendukung lainnya, Elemen buruh, Pemuda juga turun kejalan memberi dukungan kepada  calon pemimpin akan datang.
Setibanya Capres dan Cawapres sempat dimeriahkan oleh berbagai Tarian daerah dan teriakan pendukungnya. " Jokowi Presiden Indonesia 2014 " ujar Orator didepan Kantor KPU dengan lantang. Kondisi ramai pada waktu itu, sempat pecah setelah hujan besar selama 30 menit mengguyur kota Jakarta, para pendukung pun berlarian mencari tempat teduh. Seusai hujan reda kondisi jalan mulai dirapatkan kembali oleh barisan pendukung dan simpatisan Jokowi-JK tersebut. Para pedagang juga memanfaatkan kondisi tersebut untuk mengais rejeki disekitar keramaian Jalan Imam Bonjol Menteng Jakarta Pusat.

Aparat Kepolisian juga disiagakan dilokasi tersebut guna mengatisipasi kondisi tidak diinginkan.Namun hingga proses pendaftaran Capres dan Cawapres selesai kondisi sekitar KPU terlihat aman, tetapi sempat dialihkan kendaraan menuju jalan alternatif untuk mengurai kemacetan panjang.    * Didi_wj / AS 

Tuesday, 20 May 2014

Penyebab Golkar Tak Dukung JK

Koran Investigasi

Jauh-jauh hari sebelum Ical mendukung prabowo beberapa pembesar DPD Golkar sangat antusias mendukung Jusuf Kalla menjadi wakilnya Jokowi, namun karena ketidaksepakatan dalam pembagian jatah akhirnya Ical beralih ke lain hati yang membuat kader-kader partai terpecah. Padahal sebelumnya beberapa kader-kader partai Golkar telah bersama mendampingi JK dalam Pencalonannya untuk mendampingi jokowi dan itu sudah pasti atas sepengetahuan DPP Partai Golkar.
Berikut ini penyebab Golkar ( Ical ) beralih dukungan ke Prabowo-Hatta.  Telah diketahui bahwa Golkar tetap mendukung Ical sebagai Cawapres akan tetapi meskipun Suara Golkar Nomor Dua setelah PDIP secara Nasional namun tidak cukup untuk menyodorkan Capresnya karena suara Partai Nasional tidak mencapai 20% . Terlebih lagi Partai diluar Golkar enggan berkoalisi dengan partai golkar yang ngotot mencalonkan Ketuanya jadi Capres. Inilah salah satu kegagalan Ical Memimpin Partai pemenang Legislatif  ke 2 di Indonesia. Ical dinilai tak mampu menjalin Koalisi dengan Partai Lain padahal Ical memerlukan Satu Partai saja untuk 
Turut andil dalam Pencapresan.








  1. 1   ( Golkar ) Ical menginginkan untuk menjadi Cawapresnya Jokowi namun bagi kalangan PDIP dan juga Jokowi Menolaknya.  Sebenarnya pada saat pertemuan Ical denganJokowi di Pasar Gembrong Jakarta Timur mereka berdua telah menyapakati kalau yang mendampingi Jokowi adalah orang Golkar termasuk rencana deklarasi di pasar (Gembrong).  akan tetapi tidak menyebutkan satu nama siapapun. Hanya Ical     menyodorkan nama Jusuf Kalla, Akbar Tandjung, Luhut Panjaitan, Agung Laksono, Priyo Budi Santoso, Ginandjar Kartasasmita dan Ical sendiri.   Demikianlah sehingga Jokowi berkali-kali mengungkapkan pada media bahwa Golkar sudah mempunyai titik kesamaan dengan Pihak PDIP untuk menerima usulan Golkar agar menjadi Cawapresnya Jokowi. Belakangan oleh karena dalam Rapimnas Partai Golakar, ical menegaskan bahwa dirinyalah yang berhak menjadi Capres mewakili Partai Golkar bukan yang lainnya.  Selanjutnya pada pasca Rapimnas Aburizal Bakrie/Ical bertemu Megawati Soekarnoputri di kediaman Jalan Teuku Umar, Menteng, Jakarta Pusat. Ical ingin melobi Megawati agar menghormati keputusan Rapimnas Golkar yang hanya mengusung satu kandidat yaitu Ical sendiri. Rapimnas juga memutuskan bahwa jika JK masih tetap ingin maju cawapres, maka dia tidak boleh membawa nama partai. Jadi, jika PDIP tetap mengusung JK sebagai cawapres dari Jokowi, artinya JK tidak boleh membawa nama partainya,  rangkaian pertemuan tersebut tampaknya tidak ada kesepakatan  Al-hasil pada malam pertemuan 18/5/2014 di Jl. Teuku Umar di rumah kediaman Megawati untuk menentukan siapa pendamping Jokowi, dari hasil pertemuan itulah yang telah menyepakati bahwa pendamping Jokowi adalah orang Golkar. Namun masih dirahasikan.  Esok harinya sebelum deklarasi pihak JK disampaikan bahwa beliaulah yang akan mendampingi Jokowi meski sebenarnya telah terjadi kebocoran pada malam pertemuan tersebut. Oleh karena itu pihak pendukung Ical merasa kecewa atas keputusan tersebut.  Ical sebagai pemegang mandat untuk menentukan arah koalisi akhirnya beralih ke Poros Prabowo – Hatta.  Inilah yang menimbulkan perpecahan di kubu DPP Partai Golkar. Sebenarnya pada detik-detik terakhir penentuan arah koalisi Golkar, Ical dapat memaklumi atas pencalonan JK sebagai Cawapresnya Jokowi akan tetapi dari hasil pertemuannya dengan Jokowi, menurut informasi yang kami dapatkan Ical meminta untuk diberi Tujuh Jatah menteri dalam memberi syarat-syarat untuk berkoalisi padahal Jokowi telah menegaskan bahwa koalisinya tanpa syarat, dan sudah pasti Jokowi tidak menyanggupi sehingga Pihak Jokowi menolak Golkar untuk bergabung. 
  2. 2  Sepertihalnya ketika Kedua Partai ( Golkar – Demokrat ) akan membentuk poros tengah yang melibatkan Pembentukan tim 6 ( Tiga Golkar, 3 Demokrat ) Golkar yang masuk dalam Tim Enam adalah Agung Laksono, Mohammad Suleman Hidayat, dan Idrus Marham. Sedangkan dari Demokrat adalah Edhie Baskoro Yudhoyono, Sjarifuddin Hasan, dan Jero Wacik.  Tim 6 inilah yang mengambil langkah kesepakatan bahwa Golkar dan Demokrat akan berkoalisi dalam Pilpres  nanti.  Demikian dalam Rapat Pimpinan Nasional Golkar  telah disepakati bahwa Golkar berkoalisi dengan Partai Demokrat, akan tetapi Dalam kesepakatan itu, partai Golkar tidak ingin melepaskan kekuasaan sepenuhnya ke Partai Demokrat.  Golkar mengusung Aburizal Bakrie sebagai calon presiden, dan Pramono Edhie Wibowo sebagai Wakilnya meskipun Pemenang  Survey Konvensi Demokrat yang menghabiskan uang miliyar Rupiah itu adalah Dahlan Iskan. Konsep ini yang ditawarkan oleh Ical disela-sela Rapimnas ke SBY di Hotel Sultan, Lantai 15 Jakarta, akan tetapi pihak demokrat ( SBY ) tidak menginginkan ketua partai masing ( Golkar-Demorat ) menjadi Capres atau Cawapres, Ketua Umum Demokrat (Susilo Bambang Yudhoyono) ingin kedua ketua umum partai sama-sama dalam posisi king maker yang menyusun dan mengatur. Bukan yang jadi capres dan cawapres,  akhirnya ical tidak setuju dengan konsep yang ditawarkan oleh SBY.  Ical tetap pada pendiriannya Bahwa dialah yang dimandatkan dalam Rapimnas beserta Pramono Edi.  ( Golkar ).  Akhirnya rencana koalisi yang semula telah disepakati gagal total lantaran Keserakahan Partai Golkar ( Ical ) padahal Demokrat telah menyepakati Kalau Capresnya dari tokoh Golkar yang penting Bukan Ical, sebut saja diantaranya Akbar Tanjung dan Srisultan HK X.
  3. 3 Dari hitung-hitungan seperti halnya pada pemilu 2004 dimana JK maju jadi Cawapresnya SBY dengan perseorangan tanpa didukung oleh Golkar dengan pertimbangan kekuasaan.  Apabila Jokowi - JK terpilih maka, Golkar tetap ada disana akan tetapi jika Prabowo - Hatta terpilih maka jika Ical tidak mendukungnya maka bisa jadi Golkar Tak kebagian apa-apa.  Seperti kita ketahui bahwa politik Golkar adalah politik Kekuasaan yang tidak mau lepas dari pemerintah.  Inilah yang disebut bahwa Partai Golkar bermain di Dua Kaki,  Karena Golkar Takut menjadi Oposisi ( Yang berarti Mengeritik Keputusan Pemerintah ) oleh karena masih trauma akan kesalahan masalalu yang melekat pada Partai Golkar yang sampai saat ini masih menggandeng produk Orde Baru ( Dimana dalam politik pemerintahannya masih terkesan Pemaksaan, Koruptor, Nepotisme, Pungli dll ) yang bisa jadi senjata makan Tuan. Untuk itu, Golkar ada diantara kedua-duanya yang berarti tetap aman dalam situasi apapun.
  1. 4 Partai Golkar lebih mendukung Prabowo-Hatta ketimbang Jokowi-JK dengan pertimbangan Ical diberi Jabatan “ menteri utama senior “ apabila Prabowo terpilih.  Inilah salah satu hal yang menggiurkan bagi ical sedangkan permintaan Ical pada Jokowi tidak direspon lantaran Jokowi telah berkomitmen bahwa Koalisi yang dibentuk PDIP tidak ada bagi-bagi jatah kekuasaan.  * A. Ms Hersandy

Wednesday, 7 May 2014

Kegagalan Tukang Survey

Koran, Investigasi

Berdasar hasil survei terbaru Jaringan Suara Indonesia (JSI) dan Institute for Social Political Economic Issue (ISPEI) di 11 daerah pemilihan (dapil) provinsi, Golkar yang dibawa kendali Syahrul Yasin Limpo, diprediksi bisa menembus 30 kursi. Pengalaman kader yang ditunjang dengan struktur partai, serta struktur kekuasaan di pemerintahan menjadi alasan kenapa Golkar bakal mengulangi kejayaan, atau bisa meningkatkan keterpurukan di Pemilu 2009 yang hanya berhasil mengamankan 18 kursi provinsi. Direktur Eksekutif ISPEI Imam Mujahidin Fahmid mengatakan, sebagai partai warisan orde baru, Golkar sangat mengerti intrik dan strategi politik yang dibutuhkan. ( Koran Sindo.Com Minggu 30 Maret 2014 )

Nah dengan kenyataan yang ada sekarang, dari hasil rekapitulasi resmi Komisi Pemilihan Umum (KPU) Sulsel, akhir pekan lalu. Hasil kursi yang diperoleh partai Golkar ternyata sangat berbeda dengan prediksi lembaga dan konsultan politik yang digunakan partai Golkar di pileg untuk Sulse, Golkar hanya mampu membawa 18 kadernya duduk di DPRD Sulsel dari 30 target survey sebelumnya

Apakah para Tukang Survey ini mengandalakan bahwa Ketua DPD Partai Golkar Sulsel adalah seorang Gubernur ? sehingga seorang kepala daerah mampu menekan warganya untuk memilih Partai tertentu ataukah karena nama-nama besar sang penguasai warisan Orde Baru itu dianggap sebagai pegangan bahwa mereka mampu untuk menduduki kursi Parlemen ? entahlah, yang jelas lagi-lagi Tukang Survey Salah Besar Padahal katanya metode yang digunakan multistage random sampling dan tingkat kepercayaan 95 persen, dengan tingkat kesalahan 4 persen, sementara yang tida tercapai hampir setengah dan sudah pasti kepercayaan bukanlah 95% 
Mungkin ini adalah sebagai salah satu pelajaran berharga bagi sang caleg dan partai untuk tidak menggunakan jasa Tukang Survey dalam mendongkrak tingkat Popularitas sesorang dimana nama-nama yang telah disurvey hampir setiap saat dimunculkan dimedia agar masyarakat luas dapat mengetahuinya. Semestinya para Tukang Survey harus mengkritik Caleg Kliennya akan tindakan yang tidak mendapat respon dari masyarakat, agar sang caleg sadar bahwa masyarakat tidak menyukai dirinya karena berbagai hal yang tentu didapatkan dari masyarakat pemilih.  

Berapa banyak Dana sang caleg yang telah dihabiskan oleh para Survey ?, Belum lagi hampir semua Caleg Melakukan Money Politic ?  jadi jangan heran bila ada beberapa caleg yang tidak lolos meskipin telah mengahbiskan dana miliyaran rupiah.  

Menurut Opini masyarakat ada beberapa sebab sehingga Golkar Tak Dapat Melebihi Jatah DPRD Propinsi 2009 sebanyak 18 kursi meskipun jatah 75 kursi menjadi 85 kursi di 2014 telah dialokasikan, partai Golkar tak mempu menempatkan kadernya melebihi thn 2009 dengan tetap diangka 18 untuk priode 2014 -2019.
  1. Beberapa Pimpinan Partai Golakar yang Keluarga mereka menjadi Caleg   Partai Lain sehingga hampir dipastikan Suara Partai Akan terpecah.     Sebut saja Syahrul YL ketua DPD I Golkar Sulsel. ada nama dewi Yl,         ( Hanura - Kakak Kandung ), Indhira Yl ( PAN - Anak Kandung ). Kemudian Ketua      DPD II       Partai Golkar Kab. Sidrap bahkan Isteri Beliau Yang Menjadi Caleg Partai PPP
  2. Pemilih lebih cenderung ke Caleg Baru apalagi bila sama-sama melakukan Money Politic
  3. Adanya Perpecahan Internal Partai Golkar di beberapa Kabupaten sebut saja di Kab Bone.
  4. Mungkin Golkar harus berbenah diri dengan slogannya "Golkar Suara Rakyat", Padahal setelah menduduki jabatan parlemen Suara Rakyat Itu telah berubah jadi "Golkar Suara Pimpinan".
ini data hasil Survei untuk partai golkar disemua dapil: 
dapil I - 3 Kursi, Dapil II - 2 kursi, Dapil II - 4 kursi, Dapil IV - 3 kursi, Dapil V - 2 kursi, Dapil VI - 3 kursi, Dapil VII - 2 kursi, Dapil VIII - 3 kursi, Dapil IX - 3 kursi, Dapil X - 2 kursi, Dapil XI - 3 kursi. Jumlah keseluruhan 30 kursi.
  
18 Caleg Golkar yang lolos:

1.   Adnan Purcita
2.   Imran Tenri Tata
3.   Tenri Olle YL
4.   Fahruddin Rangga 
5.   Dr Rahmansyah
6.   Hois Bachtiar
7.   HM Roem
8.   Andi Mirza Riogi Idris
9.   Sofyan Syam
10. Pangerang Rahim
11. Andi Yagkin Padjalangi
12. Rusni Kasman
13. Yushar Huduri
14. Marzuki Wadeng
15. Andi Tenri Sose
16. Alfrita P Danduru
17. Muhammad Riza 
18. Armin Mustamin Toputiri


12 Nama yang diprediksi Lolos :

dapil I
- H. A Kadir Halid 
- Yusuf Gunco  
dapil II 
- Amrullah Tahir
dapil III
- Ibrahim Rewa
dapil IV
- Arfandi Idris
- Syamsuddin Zaenal 
dapil V
- A. Iskandar Latief
dapil VI
- Terpenuhi
dapil VII
- Sesuai Target
dapil VIII
- Andi Tenriatta Lantara
dapil IX
- Musyafir Kelana Arifin Nu'mang
- Lakama Wiyaka
dapil X
- Haerul Tallu Rahim
dapil XI
- Rahmat Masri Bandaso.

* A. Ms Hersandy

Tuesday, 29 April 2014

Gowa Penentu Caleg Lolos Dapil 1 Sulsel

Makassar, Koran Investigasi

Sesuai jadwal yang dikeluarkan oleh komisi Pemilihan Umum bahwa tanggal 26 April KPU tingkat Propinsi sudah mestinya merampungkan Rekapitulasi Perhitungan Suara untuk selanjutnya diserahkan ke KPU Pusat selambat-lambatnya tanggal 2 April 2014.  khusus untuk KPU Sulsel terjadi keterlambatan oleh karena adanya indikasi kecurangan besar-besaran di Kab. Gowa sehingga jadwal itu dilanggar. Sementara pelaksanaan perhitungan suara tingkat nasional tanggal 26 April s/d 9 mei 2014 harus rampung

Sehubungan dengan perhitungan ulang sejumlah kotak suara, KPU ditudinga terlibat dalam kecurangna yang terjadi di Kab. Gowa.  Komisi Pemilihan Umum (KPU) Gowa membantah terlibat untuk mengatur raihan suara sebelas calon anggota legislatif (caleg) untuk tingkat DPRD Sulsel dan DPR RI yang bertarung diwilayah tersebut.  Beredar informasi adanya pengaturan perolehan suara yang dilakukan sejumlah caleg, untuk tingkat DPRD Sulsel dan DPR RI dari beberapa partai politik. Padahal menuru ketua KPU Gowa Zainal Ruma, KPU bekerja sesuai mekanimisme yang diatur undang-undang. 

Beberapa warga kab. Gowa yang ditanyai khususnya yang berlokasi di kec. Somba Opu tentang hal itu bahwa memang isu itu adalah benar.  "Tidak Mungkin KPU Tidak Tahu Jika Ada Pengaturan Score " katanya sambil mereka tertawa.. Pembuktian isu itu benar bahwa ada unsur-unsur pelaksana pemilu 2014 kab. G ada yang terlibat , diperkuat dengan adanya Demonstrasi yang dilakukan oleh HMI tanggal 28 April 2014 yang menuntut agar KPU kab. Gowa memecat semua anggota  PPS dan PPK se Kab. Gowa. Demikian pula mereka meminta memecat Panwaslu karena dinilai gagal mengawal demokrasi yang jujur.

Sesuai selebaran yang beredar di Gowa, terdapat sebelas orang caleg yang raihan suaranya diatur agar duduk diparlemen. Tujuh Caleg DPRD Sulsel yakni, Tenri Olle Yasin Limpo (Golkar) dengan perolehan suara 72,455, Rahman Syah (Golkar) sebanyak 43.222 suara, Mapparessa Tutu (Golkar) 37.972 suara. Rismawati Kadir Nyampa (Golkar) 36.189 suara, Abd Djabbar Hijaz (Golkar) 41.086 suara, Usman Lonta (PAN) 25.471 suara, Asrul Makkaraus Sujiman (PPP) dengan raihan suara 25.646 suara. Sementara, empat Caleg DPR RI masing-masing, Amir Uskara (PPP) akan mendapat 80.448 suara, Ulla Nuchrawaty (Golkar) 40.625 suara, Indira Chunda Thita (PAN) sebanyak 82.004 suara, dan Dewie Yasin Limpo (Hanura) 78.956 suara. Bahkan, selebaran pemetaan suara para caleg, telah dibubuhi tanda tangan. Dari sebelas caleg baik tingkat provinsi maupun pusat, hanya satu caleg yang tidak bertandatangan, yakni Ulla Nuchrawaty. Dengan adanya selebaran itu telah mengindikasikan bahwa apabila itu benar berarti bisa dipastikan bahwa semua tingkatan dalam pelaksanaan Pileg 2014 dikab. Gowa turut andil.akan hal itu.


HMI Demo didepan Kantor KPU Gowa 28 April 2014
Meminta Agar semua PPS, PPK  dan PANWASLU se-Kab. Gowa Dipecat

  
Sebuah bukti nyata ketika terjadinya penghitungan ulang dari 944 Kotak suara yang disebabkan karena hilangnya form. C1 didalam kotak suara. Belum lagi adanya indikasi penambahan suara sekitar 8.000 tanpa pemilih.  Ini adalah hal yang luar biasa terjadi di kab. gowa yang nota bene gudangnya Partai Golkar.

Informasi yang beredar di Gowa, KPU bukan saja di-isukan terlibat dalam pemetaan / pengaturan score suara caleg tertentu, tapi semua yang terlibat dalam penyelenggaraan pemilu telah terlibat dengan isu beredarnya penjualan Form. C1 dengan harga Rp. 2.000.000 untuk DPR-RI dan untuk DPRD Kab. + DPRD Propinsi berfariasi antara Rp. 500.000 s/d 1.250.000. 

Dengan demikian setelah Perhitungan Suara KPU Kab. Gowa yang menurut Zainal Ruma bahwa perhitungan ulang akan Rampung hari ini tanggal 30 April 2014, dan selanjutnya akan dibawah ke Makassar Untuk diserahkan ke KPU Sulsel, akan kah ada perubahan signifikan terhadap caleg terpilih Khususnya Caleg DPR-RI Dapil Satu yang meliputi Makassar, Gowa, Takalar, Jeneponto, Bantaeng, dan Selayar ? Akankah Caleg Partai Nasdem menggantikan salah Satu diantara Caleg yang terindikasi melakukan pengaturan Score..? kita tunggu hasilnya.* Andi.Ms Hersandy

Baca Juga ?

Social Icons